Akselerasi Hilirisasi, Kementan Tingkatkan Mutu Sertifikasi Benih Perkebunan di Jawa Timur
Dalam rangka percepatan hilirisasi komoditas perkebunan serta peningkatan kapasitas Pengawas Benih Tanaman (PBT) dalam melaksanakan sertifikasi benih, Direktorat Perbenihan Perkebunan menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis peningkatan kapabilitas. Acara yang mengusung tema "Peningkatan Kapabilitas PBT untuk Sertifikasi Benih Tanaman Perkebunan dalam Rangka Hilirisasi" ini digelar selama empat hari, terhitung sejak tanggal 9 - 12 Juni 2026, bertempat di Ruang Aula Pertemuan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur.
Agenda ini diikuti oleh 40 Pengawas Benih Tanaman (PBT) yang mewakili berbagai Unit Kerja maupun Unit Pelaksana Teknis di bawah Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), serta UPT Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur yang tersebar di wilayah Jawa Timur.
Hadir sebagai perwakilan BRMP dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Pemanis dan Serat (BRMP TAS), Sri Suhesti. Selain hadir sebagai perwakilan BRMP, Sri Suhesti juga memaparkan materi bertajuk “Peran Strategis Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Dalam Mendukung Keberhasilan Hilirisasi Perkebunan”.
Dalam arahannya, Sri Suhesti menekankan bahwa hilirisasi yang kuat hanya bisa lahir dari sektor hulu yang tangguh. Beliau mengingatkan seluruh peserta bahwa keberlanjutan industri perkebunan sangat bergantung pada sektor hulu. Menurutnya, hilirisasi industri perkebunan tidak akan berjalan berkelanjutan tanpa adanya jaminan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas bahan baku dari sektor pertanian.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa BRMP memiliki peran yang strategis dalam mendukung hilirisasi perkebunan. Hal ini selaras dengan tugas dan fungsi BRMP yang meliputi perekayasaan, perakitan dan pengujian, produksi benih sumber, standardisasi, serta penilaian kesesuaian. Tidak hanya itu, BRMP didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni dalam proses pendampingan teknis—mulai dari evaluasi penetapan kebun sumber benih, sertifikasi benih, pendampingan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Manufacturing Practices (GMP), hingga evaluasi dampak program—serta sarana prasarana pendukung yang memadai. Dengan modalitas tersebut, BRMP berkomitmen penuh memberikan dukungan nyata dalam menjamin ketersediaan bahan baku yang berkualitas dan berkelanjutan.
Sri Suhesti juga menjabarkan lima pilar penting yang menjadi fondasi utama dalam mendukung keberhasilan hilirisasi. Kelima pilar tersebut meliputi penguatan produksi hulu, penerapan inovasi dan digitalisasi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir, serta penerapan sistem pengawasan mutu yang terintegrasi.
Sebagai langkah konkret untuk mewujudkan pilar-pilar tersebut, selama empat hari pelaksanaan kegiatan, para peserta digembleng secara intensif. Materi pelatihan difokuskan pada pendalaman aspek teknis regulasi, yang mengulas secara mendalam mengenai Prosedur Sertifikasi Benih Tebu, Prosedur Sertifikasi Benih Kopi, Prosedur Sertifikasi Benih Kakao, Prosedur Sertifikasi Benih Kelapa, hingga Prosedur Sertifikasi Benih Jambu Mete.
Melalui pembekalan intensif ini, para PBT diharapkan mampu mengawal mutu benih secara ketat di lapangan demi menjamin ketersediaan bahan baku berkualitas tinggi bagi industri hilir nasional.